Pagi itu, Jum’at 2 Mei 2025, saya memutuskan untuk mengantarkan Ramona sekolah menggunakan sepeda motor, karena dia diharuskan masuk sekolah pukul 6:45, yang mana 45 menit lebih awal dari biasanya. Ini bukan pertama kalinya saya mengantar dia naik sepeda motor, tapi kali ini saya merasa lebih dekat dengan pengendara lainnya, dan saya lebih sering melihat sekeliling.
Di perjalanan pulang, bertepatan lewatnya kereta api saya ikut mengantri dan menunggu kereta api lewat di depan palang pintu kereta api. Saat mengantri saya sempat mengabadikan moment disekitar dengan handphone, terlihat di sebelah kiri saya ada anak kecil yang ikut belanja ayam dengan ibunya dan menunggu datangnya kereta.

Yang tak mungkin tertinggal adalah orang-orang yang masuk ke dalam palang pintu kereta api. Kali ini saya tidak merasa marah melihat orang-orang itu, saya mencoba mencari sudut padang lain dan menjadi orang tersebut. Bisa jadi mereka sedang dalam keadaan terburu-buru, bisa jadi mereka ingin melihat kereta api lebih dekat, atau bisa jadi mereka ingin merasakan sensasi bagaimana angin yang dihembuskan kereta api ketika lewat.


Entah lah, tapi bukan sama sekali saya membenarkan aktifitas tersebut, hanya mencoba mencari sudut pandang lain. Itu membuat saya membuka pintu lain untuk bersyukur.